08 October 2013

Recreating

In this entire two years I've lived with nothing to be memorized. I don't say my surrounding is bad. It's good, though. I'm surrounded with smiles and laughter of them and automatically I will smile too. It's too late to realize they were just fake. I mean they in here refers to my smile and laughter. So now I really am trying to recreate my should-be-life. I can't live with fake emotions. It's really tiring and I get nothing. I'm just doing my routines as a normal-girl but my soul can't feel this life. In the name of Allah, Ninis' new life begins!

29 July 2013

Ikhlas

Seringkali saat aku menolong orang aku membatin, "Ya nggak papa deh nolong orang. Toh nanti kita insyaAllah bakal dapet balasannya juga."
Aku kira matematika Tuhan sama dengan matematika manusia. Aku kira saat kita memberi 1 maka Tuhan akan memberi kejadian baik 1 pula ke kita. Ternyata tidak. Seorang temanku pernah berujar, "Nis, tau nggak, aku pernah denger quotes. Saat kita memberi 1 dan mengharap 1, maka kita akan mendapat1. Saat kita memberi 1 dan mengharap 10, maka kita hanya akan mendapat 0,5. Tapi saat kita memberi 1 tanpa mengharap apa-apa, maka kita akan mendapat banyak hal yang tak kita bayangkan."
Aku namai ini The Power of Ikhlas.
Aku merasa menjadi ikhlas itu suliiiit sekali. Karena kita benar-benar memberi atau melakukan sesuatu tanpa pamrih sedikitpun. Termasuk pamrih sama Allah. Hmm, aku kurang tau juga sih kalau pamrih sama Allah nya tentang pahala. Tapi kalau bisa, saat kita memberi atau melakukan sesuatu itu kita benar-benar merasa hati kita plong dan lega setelahnya.
Saat liburan sekolah kemarin aku membaca buku 23 Episentrum. Bukunya semacam self-improvement gitu deh. Keren, deh! Tapi makna yang bener-bener aku tangkep dari buku ini adalah: belajar ikhlas memberi. Bukan cuma memberi di saat kita sedang senang. Tetapi juga ikhlas memberi disaat justru kita sedang susah tanpa mengharap imbalan apapun. Dan, terbukti (di cerita itu) kita akan dapet ganjaran yang super dari Sang Maha Pemberi.
Ikhlas. Ikhlas. Ikhlas. Satu tindakan yang masih sulit aku lakukan. Apalagi untuk pure ikhlas. Tapi insyaAllah nggak ada sesuatu yang nggak mungkin. Yuk mari belajar ikhlas :D
Aku simpulkan bahwa ikhlas atau enggak itu tergantung niat awal kita. Mulai sekarang, susun niat yang baik dari awal. Lalu, kerjakansemua dengan ikhlas. Dan...matematika Tuhan tidak sama dengan matematika manusia. Karena Dia sungguh Maha Segala-galanya :)

26 June 2013

Gagal

Di ujung semester ini kembali aku gagal. Entak kres keberapa. Entah untuk ke berapa kalinya aku mengecewakan orangtuaku. Tapi, Allah mungkin sangat adil untuk hambaNya ya. Orangtuaku no comment. Katanya, masih ada waktu satu tahun.
Dan Allah juga adil memberiku segini. Karena dari awal niat/tekadku belum kuat. Usaha&doa ku juga melemah. Juga, ada beberapa niat yang melenceng. Tak kulakukan dengan ikhlas. Mungkin hal-hal seperti ini berakibat banyak ke hasil.
Well, I do believe Allah has plan.

02 June 2013

Iklan Kehidupan

Gemuruh itu hanya selingan
Sesaat yang membuai hati
Kukira kan berlangsung lama
Tak sampai sebulan lalu menghilang kembali

Tak perlu bingung dibuatnya
Sebab, perasaan ada batas abadi
Tak selalu konstan
Menghantar arah hidup manusia

Semula kukira itu badai
Bisa meruntuhkan segala impian
Ternyata hanya iklan hidup
Pemanis layaknya gula

Sekarang kembali ke tujuan awal
Mengabdi pada Tuhan
Menjalankan kehidupan

Mengejar cita-cita

Ninis Prabaswari

31 May 2013

Tentang Menjadi Ibu

Kamu mau jadi full-time mother atau part-time mother?

Pertanyaan yang mungkin belum dipikirkan oleh remaja kebanyakan. Tapi ibuku sudah sering mengungkit-ungkit tentang hal ini. Ditambah lagi seorang tokoh penting di dunia per-twitter-an juga pernah membahas ini. Dan aku mau memberi pendapat aja sih tentang dua pilihan ini.

Ibuku seorang full-time mother. Dari pagi sampai sore selalu ada di rumah. Banyak yang dikerjakan. Contoh nih ya; masak, mencuci baju, menyapu, membaca, dll. Kegiatan-kegiatan seperti itu produktif lho. Kalau kamu melihatnya dari sisi sepertiku ya. Ibuku juga tampaknya cukup bahagia dengan kehidupannya.

Tapi ibuku selalu berkata, "Nis, jadi perempuan itu juga harus mandiri. Punya penghasilan sendiri. Kalau misalnya nanti ada sebuah musibah, kamu udah nggak kaget dan sudah punya jalan keluar. Kalau kayak ibu gini juga nggakpapa sih. Cuma ya itu tadi, kamu jadi sering merasa 'di bawah'. Merasa aja sih. Tapi jadi ibu rumah tangga tulen itu juga pahalanya besar banget. Dan ibu tetap bahagia."

Jadi, Ibu selalu bilang ke aku. Pokoknya aku harus punya pekerjaan. Dan aku setuju banget. Karena perempuan juga harus punya sarana aktualisasi diri kan? Tapi, kalo menurutku, carilah pekerjaan yang waktunya masih bisa diatur. Masih bisa dibagi antara di rumah dan di tempat kerja.

Bagi anak-anak SMA kayak aku sih, yang penting cita-cita tercapai dulu, girls. Cita-cita tetap harus tinggi, tapi visi hidup juga harus ada ya. Visi hidup itu penting banget untuk menentukan kamu mau ngapain di dunia dan mau berjalan ke arah mana? Dan visi hidup juga harus menuju ke akhirat lho. Jangan hanya dunia saja. Karena waktu di dunia itu sangat pendek...

Aku pribadi, tidak melarang seorang perempuan mau bekerja atau menjadi full ibu rumah tangga. Kan, semua tergantung pada pilihan masing-masing pribadi. Bekerja baik. Jadi ibu rumah tangga full juga baik sekali. Jadi, tinggal kita pintar-pintar mengatur waktu dan mengelola ilmu dengan baik sih. Menjadi seorang ibu itu butuh visi dan juga ilmu. Karena anak bukan boneka yang bisa disetir seenaknya. Anak itu harus dibimbing dan diarahkan dengan baik, bukan?

Jadi, kelak kamu mau jadi seperti apa itu pilihanmu sendiri-sendiri. Dan, sudah sebaiknya setiap orang menghargai pilihan orang lain. Tapi juga jangan lupa mengingatkan terus kepada kebaikan untuk kemaslahatan sesama :D

Dan nggak ada salahnya lho mulai sekarang kita udah bikin visi hidup dan mencari tahu ilmu untuk menjadi ibu yang baik. Supaya kelak, ketika menjadi ibu beneran ilmu kita udah keren dan bisa jadi ibu dari anak yang super :D

Ninis Prabaswari