29 November 2011

Bahagia!

23.00

...
...
...
...
...
...
...

Wahai jangkrik, kemana kalian malam ini? Temani aku, please. Jangan biarkan aku sendiri mengulum semua cerita pahir masa lalu dengan berbutir-butir air mata ini...

Bantal dan guling sejatinya bukan tempat untuk air mata. Mereka hanya untuk menemani kita bermimpi! Manusia sungguh kejam bukan?
Kasur sejatinya bukanlah tempat untuk meluapkan segala emosi dan keluh kesah. Ia semata-mata hanyalah untuk tempat melampiaskan lelah yang ada di badan.
Gitar sejatinya bukan untuk dimainkan sembari ditangisi. Ia hanyalah penghibur di kala suka dan tak menanti akan jatuhnya sebutir rasa duka.
Buku sejatinya bukan untuk dihujani air mata melainkan untuk dibaca dan diresapi makna dari setiap bait.
Boneka sejatinya tak ingin kita peluk dalam keadaan basah. Ia ingin semua orang memluknya dengan perasaan bahagia. Bukanlah suasana duka.

Intinya, semua benda ingin diperlakukan dengan menyenangkan dengan wajah yang bahagia pula. Karena perasaan itu menular dengan cepat! Cobalah untuk selalu tersenyum dan tertawa. Tebarlah kebahagiaan untuk sekitar. Berbagilah dengan sesama.

Yang ingin selalu bahagia,

Ninis Prabaswari...

28 November 2011

MEREKA!

Ketahuilah, bahwa aku ingin menjadi seperti mereka. Mereka layaknya manusia paling beruntung sedunia. Kadang aku berpikir, apakah memang ini nasibku? Tapi aku mengelak dari itu. Aku yakin, ini bukan NASIB tapi ini adalah proses. Proses menuju kematangan layaknya mereka.
Sebagian dari mereka telah mendapatkan apa yang selama ini aku dambakan. Apa yang selama ini aku inginkan. Sungguh aku ingin seperti mereka.
Aku telah berusaha semampuku meyakini raga ini bahwa semua ini adalah bagian dari sebuah proses. Tapi hati kecilku menolak. Ia merasa bahwa ini adalah takdir, nasib, atau apalah itu. Sugesti terasa tidak lagi mempan mendorong angan untuk terus terbang tinggi, meraih apa yang memang sepantasnyalah diraih. Raga dan jiwa ini tak mampu. Bukankah wajah ini telah menunjukkan keletihan yang amat pekat? Keletihan untuk mengejar mereka...
Apakah aku harus bertahan menjadi diriku sendiri? Terkungkung dalam setiap senti kebodohan yang sesungguhnya berasal dari dalam raga ini sendiri. Apakah aku harus terbang bebas dan tinggi kemudian melupakan tujuan utamaku untuk menjadi seperti mereka?
Terkadang...aku letih mengejar mereka. Mereka terlalu jauh. Terlalu tinggi. Hingga kemudian hanya lelah yang bersemayam dalam dada ini. Tertekan. Meskipun tiada satu orang pun yang menekanku untuk menjadi seperti mereka. Tapi hati kecil ini sangat ingin menjadi mereka. Namun hati kecil ini pula yang mengeluh.
Aku hanya tabir dari bayangan mereka. Meskipun, aku masih percaya aku bisa mencapai mereka, tapi untuk sekarang, aku sudah lelah. Aku yakin suatu saat 'nasib' baik itu akan berpihak kepada tabir ini.
Tolong jangan tiru aku, kawan... Aku hanyalah contoh bodoh yang tak lagi berdaya untuk mengejar mereka. Mungkin kalian punya sendiri mereka versi kalian. Kejarlah mereka! Suatu saat kau pasti akan terbang lebih tinggi daripada aku yang masih saja menjadi tabir bagi bayangan mereka sedangkan KAU sudah menjadi mereka HAHAHA.
Semalat berjuang ;)



*P.S: Doakan juga supaya aku bisa mengejar mereka selayaknya kalian :)

23 November 2011

Perjanjian Dengan Rambut

"Rambut, mulai sekarang aku berjanji tidak akan meperlihatkanmu kepda orang lain!" aku berkata dengan hikmat sambil mengelus pelan helaian panjang hitam itu.

"Mengapa? Apakah aku sebegitu buruknya sehingga kau tak ingin orang lain melihatku?" ia bertanya dengan mimik muka memelas.

Aku tak tega melihatnya, "Bukan begitu. Justru sebaliknya. Kau terlampau indah untuk diperlihatkan kepada mereka yang baru mengenalku. Kau akan kurawat dan kujaga baik-baik. Dan suatu saat seseorang yang pantaslah yang akan melihatmu indah tergerai dari kepalaku. Ini semata-mata kulakukan untuk menjalankan kewajiban yang Allah SWT berikan kepada seorang muslimah. Dan insya Allah semua itu akan dibayar dengan ganjaran yang sesuai di waktu nanti. Tetaplah menjadi mahkotaku..."

Lalu, Si Rambut telah berhasil kututupi kirang lebih selama setahun ini...

Ada yang mau nyusul? :D

31 October 2011

Hai!

Assalamualaikum, bloggers^^
Terlalu banyak yang ingin aku tulis. Hmm, aku bingung harus memulainya darimana...

Oke, jadi pada suatu sore aku merasa bosan. Lalu aku mengambil motorku yang teronngok pasrah itu. Ternyata dia memang benar-benar sedang tidak niat hidup. Aku terus berusaha menghidupkannya. Dan akhirnya!!!! Dia tetap gabisa nyala #epicfail.
Lalu aku memanggil ibuku "Buuuu, motornya gabisa nyala!" ibuku lari tergopoh-gopoh ke luar rumah. Lalu beliau berusaha menghidupkan si-tua-yang-hampir-pensiun ini. Maih tidak bisa hidup! Sungguh tragis......
Akhirnya, ibuku memanggil satpam. Dan, voila! Mesinnya bekerja! *kemudian teringat Burung Bul-Bul* *kemudian ingin pentas lagi*
Entah apa yang berkecamuk dalam hati & pikiranku saat itu. Namun sungguh aku gondok luar biasa. Aku jenuh, lelah, bosan. Aku ingin menghirup udara sore yang bebas tanpa ada satupun beban yang terus menghantui hari-hariku layaknya SMP dulu. Aku ingin lepas seperti burung yang terbang di angkasa luas. Terus terbang tanpa dihantui oleh tanggung jawab...
Aku mencoba menenangkat hati & pikiran yang sedang kacau itu. Sholat mungkin jalan terbaik. Tapi ternyata setelah sholat pun hati & perasaanku tak kunjung membaik. "Nis, itu motornya udah bisa dipake," aku terdiam. Ibuku duduk di sofa menunggu respon dariku. "Ngaak jadi aja gimana, Bu?" ibuku marah. Ibuku kecewa. "Kamu tuh udah diusahain biar motornya nyala. Biar kamunya senang malah gitu," seketika air mataku jatuh membanjiri pipi.
"Aku cuma bosan, Bu. Bosan dengan segala rutinitas ini. Sejak pertama masuk SMA aku belum pernah jalan-jalan kecuali saat lebaran. Ninis ingin keluar menghirup udah bebas sejenak. Melupakan segala tugas & tanggung jawab yang ada sejenak," akhirnya semua keluar begitu saja dari bibirku. Semua meluncur dengan lancar tapi tidak jelas karena semua perkataanku itu diselingi dengan isakan hebat. Aku merasa beban ini sudah begitu berat. Aku sudah tidak kuat menanggungnya sendiri. Aku sudah tidak mampu membuat senyum dan tawa palsu. Aku sudah hampir melupakan apa arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Kehidupanku berjalan begitu saja tanpa ada satupun makna yang tersisa dari hari-hari yang terlewati. Time flies so fast.
Aku terus memohon ampun kepada beliau. "Nggak papa, tapi ibu cuma merasa kehilangan. Mana kamu yang dulu yang terbuka, ceria, dan selalu senang?" Subhanallah akhirnya kalimat ini keluar juga. Ternyata benar, aku berubah sejelas itu. Bahkan, ibuku merasakannya. Tangisanku semakin kencang. Aku telah berubah dan sungguh aku ingin kembali ke aku yang dulu. Saat duniaku nyata dan tidak penuh dengan kepura-puraan seperti sekarang.
Tapi akhirnya kini aku mengerti. Sore itu Allah telah mengetuk pintu hatiku. Allah telah membukakan jalan untukku memperbaiki diri. Allah telah membuktikan kepadaku bahwa sebesar itulah cinta seorang ibu kepada anaknya. Terimakasih ya Allah. Sungguh, aku berjanji aku akan berubah menjadi ninis yang lama lagi.

Itu ceritaku, bagaimana ceritamu?

Hey, bagi para siswa kelas X! Aku tahu beberapa diantara kalian mengalami masalah yang hampir sama dengan diriku. Mari cepat jari jalan keluarnya. Berbicara adalah kunci utama. Tetap semangat ya menjalani sebuah zona baru yang sungguh jauh dari expetasi kita selama ini. Kata orang, kehidupan SMA itu indah. Mungkin kalimat itu menimbulkan tanda tanya besar bagi kita. Tapi itu kan sekarang, mudah-mudahan sebualnlagi kita bisa merasakan keindahan yang sesungguhnya. Amin.

Salam hangat,
Ninis Prabaswari

11 October 2011

Usang

Usang.
Album tua itu teronngoh manis di sudut rak yang berdebu. Entah sudah berapa lama ia tidak dibersihkan.
Tangan-tangan kecil kami berusaha mengeluarkannya dari ruangan sempit yang berdebu itu.
Nafasku tertahan. Hatiku bergejolak.
Apa ini?
Aku mersakan sebuah getaran di dalam hati. Pertanda apa ini?
Album usang itu perlahan terbuka.
Menebarkan debu-debu tebal dan mengeluarkan bau perkamen tua. Warna kekuningan kertasnya seolah menggambarkan harga kenangan-kenangan yang tersimpan.
Seluruh tubuhku bergetar. Aku mendadak pusing.
Semuanya berkelebat di kepalaku.
Hebat. Hanya dengan beberapa lembar dari sebuah album jompo aku menemukan mereka kembali.
Aku menemukan semua kenangan yang telah terkubur dalam.
Sia-siakah usahaku selama ini?
Tidak.
Aku punya mereka di masa lalu.
Mereka yang membuatku menjadi seperti sekarang.
Mereka yang telah mewarnai hari-hariku.
Mereka yang selalu membuatku merasa ada dan berharga.
Mereka yang selalu membuatku merasa beruntung.
Mereka yang selalu memahamiku.

-

Akhirnya, kuberanikan diri untuk menyentuhnya.
Kuraba satu per satu wajah mereka.
Aku merasakah senyuman mereka. Aku merasa ada.

-

Apakah ini hanya sebuah perasaan usang yang tak lekang oleh waktu?
Entahlah.
Apakah usang berarti jelek?
Entahlah.
Apakah usangnya sebuah kehidupan masih mampu menghasilkan sebuah harapan?
Masih.
Seorang usang mampu menjadi bersih kembali jika ia mau berusaha untuk berubah. Membersihkan dirinya sendiri.
Balik ke bentuk aslinya.
Bersih.