Showing posts with label sisipan. Show all posts
Showing posts with label sisipan. Show all posts

05 March 2012

Kepergian

Sosok yangmelahirkan dengan susah payah
Dengan taruhan nyawanya,
ia terus mengerang demi lahirnya sosok mungil
Subhanallah, pengorbanannya amat luar biasa...

Menuntun merangkai huruf
Terbentuklah kata lalu kalimat
Menuntun menerna angka
Hingga sulit pun teratasi

Bertepuk tangan kala berhasil
Mengelus pundak saat gagal
Bersorak riang saat tertawa
Mengusap air mata kala gundah

Menemani dalam setiap langkah
Menjejak setiap inci kehidupan
Berbagi semua pengalaman
Nasihat terujar dari bibirnya

Merawat di kala sakit
Bak obat penawar yang selalu tersedia
Ia ada di sampingku
Menghibur dengan alunan merdunya

Tak kuharap kau kan pergi
Selalu berharap tuk dapat bahagiakanmu
Tuk membalas segala jasa serta perngorbanan
Dan segala yang telah ia berikan,
Ibu...


Hari ini, Ibunda dari salah satu kakak kelasku pergi tuk selamanya. Dan aku melihat kakak kelasku ini tegar sekali. Tetap tersenyum bahkan tertawa saat kupeluk. Bahkan ia berpesan -kepadaku. Semoga almarhumah diberi tempat terbaik disisi-Nya. Dan semoga kakak kelasku ini selalu diberi ketabahan serta kekuatan lahir dan bathin.
Aku yakin, ia akan tetap berjalan tegap di barisan terdepan untuk menyongsong cita-cita. Aku yakin, ia akan tetap memandang lurus ke depan dengan percaya diri. Karena ia hebat. Kami semua tahu itu.
Dan yang terpenting, Allah pasti dan akan selalu ada untuk kita semua. Tanpa terkecuali.

Be strong, girl ;-)

04 March 2012

Untuk Pandu....dan Semua Orang

Dear Pandu,

Lihat langit di atas sana. Amat luas membentang. Pun samudra yang begitu luasnya hingga kau hanya dapat melihat garis khayal cakrawala karena sesungguhnya ia tak terbatas. Lihat juga hujan yang kerap datang dengan derasnya.menghantam bebatuan dengan kerasnya. Namun, batu itu tak pernah mengeluh. Kau lihat matahari? Yang selalu bersinar, tak pernah absen walau sehari pun. Memberikan setiap jengkal sinarnya untuk bumi dan isinya. Tak pernah mengeluh. Lihat awan yang selalu bergerak dan berubah bentuk. Namun, bentuknya selalu indah dan terkadang menakjubkan.

Mereka menggambarkan kehidupan. Langit menggambarkan bahwa dunia itu luas dan kau harus dapat menjangkaunya. Samudra menggambarkan mimpi yang tak terbatas. Mimpi yang terkadang terasa terlalu tinggi namun selalu ingin kita capai. Hujan ibarat cobaan yang kerap menerjang kehidupan dengan keras dan kejam tidak berperi.namun kau haruslah seperti batu yang tak pernah mengeluh dan teguh pada pendiriannya. Tak kenal putus asa dan selalu gigih berusaha. Lihatlah juga matahari yang selalu menebar sinar cerahnya. Begitu juga kau yang harus selalu tersenyum walau masalahmu amat berat. Hingga terkadang kau tak sanggup membendungnya. Kemudian ceritakanlah pada orang yang kau percaya. Ibumu dan kakakmu adalah orang yang sepatutnya kau percayai. Jika kau tak lagi percaya dengan mereka, kepada siapa kau akan percaya? Ibarat awan yang bergerak bebas, kau harus terus bergerak maju! Tak peduli hal apa yang menghalangi. Dan sesuaikanlah dirimu dengan semua keadaan layaknya awan yang selalu berubah bentuk.

Jangan terpuruk dengan keadaan. Majulah! Insya Allah kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini. Bukankah dulu kau selalu bilang ingin bisa merancang mobil-mobil itu? Kejarlah! Buatlah ibumu bangga. Bayarlah kerja kerasnya dengan kesuksesanmu kelak. Biar Ayahmu yang sekarang sudah tak lagi peduli itu menyesal telah menelantarkan anaknya yang sangat hebat. Go Pandu!


a letter to Pandu. Who is he? Let's guess..

26 February 2012

Nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan?

Enam belas tahun sudah aku bernafas dalam kehidupan. Berusaha menjalaninya dengan semangat dan penuh keikhlasan. Mencapai segala impian serta cita-cita. Berupaya keluar dari cobaan-cobaan hidup yang Dia berikan.
Kini aku sadar, bahwa aku tidak ada apa-apanya dibanding Dia. Dia yang sudah sepatutnya aku cintai dan menjadi tempat mengadu. Dia yang Maha Pengasih serta Penyayang. Selalu mengabulkan semua keinginan tanpa mengharapkan balasan. Sungguh, Dia sangatlah pemurah.
Maha Besar Allah yang selalu memberikan nikmat di setiap hembusan nafas dan di setiap jengkal langkah. Dia yang senantiasa membimbing kaki ini untuk melangkah ke tempat yang lebih baik. Dia yang Maha Bijaksana.
Dia yang Maha Mengatur segala kehidupan. Apalah jadinya dunia ini tanpaNya?

"Fa Bi ayyi Ala irobbikuma Tukadzdziban" Nikmat Tuhan Yang manakah yang engkau dustakan?
(QS AR-Rahman)


16 December 2011

I have them!

I was newbie in this citizen. It was January 2009. My mother picked me up from my new school and she was going to as, "How's your day, dear?" "Bad," that was my answer. That WAS my answer.
In the afternoon, rain was coming and they were truly enemy. My thought gone to those time when I was there with them and with him. And they brought me to my knees, staring on them. My thought echos his name on and on. Hey, I have no one in here!
The next day, I went to that building again. Soon, it should do my daily in here. Here, in this building. I walked through the corridors with awkwardness. Every eyes were took their sight on me. My heart was going faster.
Then I went to that room, sooner I would mention it 'class'. Yes, that was my first class in Jogja. I saw so many new faces. They were kinda same to each other. That was always be our thought when we met some new people, wasn't it? ;)
Firstly, I didn't get on them really well. I miss my old city, though. I miss my friends and....him. Until, the blue February was coming. I've been broke up with him and surely I had to enjoy my newest life in here.
So, you (IX6) were the best class ever! After six-death-months, being like a zombie and tears were covering my face; finally I could take a free-breathe without thoughts-about-him.
"Every night is all the same
you're frozen by the phone you wait something changed
You blame yourself everyday
You do it again every night,
Something 'bout love that breaks your heart
sets you free
something 'bout love that tears you up
you still believe."
This was truly my song. But, you all of IX6 members came to my life. You were the best medicine ever! Everyday my life was full of laughs, happiness, and smiles. Everything seemed wonderful!
From the deepest angle of my heart I would say HUGE THANKS TO MY 96! I DO REALLY LOVE YOU ALL! Thanks for those lessons and happiness. You have just gave me some strength to face the future and smile all over again though there were some pains in the journey. You made me believe that I wasn't lonely in this world. I was free from loneliness anymore! You did it, guys! Huge thanks! Xoxo


Ninis Prabaswari
Part of 96

03 December 2011

Sate Padang dan Sebuah Saran

6:oo pm

Selepas sholat maghrib aku dan ibu jalan ke dokter gigi untuk menanyakan tentang gigiku yang sudah dalam tahap cukup kronis. Kronis dalam arti sudah membuatku was-was. Was-was dalam arti akan menghalangi impian dan cita-citaku.
Tapi dokter itu benar. Ini tidak apa-apa. Aku masih 15 tahun dan umurku masih panjang untuk untuk perkembangan gigi. Subhanallah, hal ini sangat menengkanku.
Ini bukan masalah sebuah penampilan, melainkan sebuah kerapian. Esensi dari sebua tampilan bukan cantik melainkan indah untuk dipandang oleh mata. Namun, indah bukan hanya dilihat dari kebersihan, kerapian, dan keindahan fisik semata, keindahan dari dalam hati jauh lebih penting..

Bukan itu sebenarnya bagian yang penting.

Bagian yang penting adalah........
AKU HARI INI (AKHIRNYA) MAKAN SATE PADANG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Setelah dua tahun di Jogja belum pernah sekalipun aku merasakan kuah sate padang yang ahmazingggg banget itu. Alhamdulillah aku merasakan rasa itu lagi malam ini. Terima kasih ya Allah. Ini sudah cukup untuk mengobati rinduku kepada Batam.

Hey, Batam I do miss you a lot!

Setidaknya, malam ini punya warna cerah yang akan selalu kuingat.

Yang sedang bahagia,


Ninis Prabaswari;

30 November 2011

Metamorfosis

Sungguh, kadang kita perlu mengabaikan pendapat orang tentang sikap maupun pendangan kita.


Raga ini sedang berusaha untuk bermetamorfosis menjadi lebih baik di setiap detiknya. Kehidupan terasa lebih keras sekarang. Hhh mari kita mencoba untuk bersabar sejenak dan menunggu kejutan apa yang akan muncul di kehidupan.
Now back to the topic, dulu aku seperti ulat yang berubah menjadi kepompong saat proses itu terjadi. Lalu aku mendapat apa yang aku ingin -menjadi seekor kupu-kupu.
Namun, setelah aku bertemu dengan kupu-kupu yang lain aku jadi merasa kecil, merasa jelek, merasa kusam. Mereka itu ibarat kupu-kupu indah yang mempunyai sayap-sayap indah. Lihatlah sayapku ini! Hanya ada tiga jenis warna; hitam, abu-abu, dan putih. Bentuknya pun sudah tak karuan, nyaris rapuh. Atau bahkan sudah rapuh? Ah, aku tak tahu...
Ketahuilah, aku iri melihat sayap mereka. Aku iri dengan seluruh keindahan hidup yang mereka miliki. Dulu, aku merasa sebagai seekor kupu-kupu paling indah yang selalu bisa terbang jauh di atas kupu-kupu lain dan meraih mimpiku dengan mudah. Sekarang semua terasa nyata. Aku bukan apa-apa taupun siapa-siapa.
Aku harus memulai semuanya dari nol lagi. Mengulang titik paling bawah dan terus berkembang setelahnya. Aku sadar aku harus mengejar mereka. AKU MAMPU, AKU BISA, HARUS BISA, PASTI BISA! Kalian juga, KALIAN MAMPU, KALIAN BISA, HARUS BISA, PASTI BISA!
Tidak apa-apa memulai dari nol lagi. Yakinlah, suatu saat nanti kalian akan menemukan jati diri yang sesungguhnya dari dirimu bukanlah diri orang lain. Layaknya aku sekarang yang sedang merubah rupaku menjadi lebih indah.
Abaikanlah semua cibiran yang datang, terimalah semua kritik. Anggap saja itu utk memperbaiki diri.
Ketahuilah wahai kawan... Saat ini, kita berjuang bersama. Kau dan aku satu tujuan.

Abaikan mereka yang menyindir, karena sesungguhnya mereka hanya bisa iri...

Yang memulai dati nol,


Ninis Prabaswari;

29 November 2011

Bahagia!

23.00

...
...
...
...
...
...
...

Wahai jangkrik, kemana kalian malam ini? Temani aku, please. Jangan biarkan aku sendiri mengulum semua cerita pahir masa lalu dengan berbutir-butir air mata ini...

Bantal dan guling sejatinya bukan tempat untuk air mata. Mereka hanya untuk menemani kita bermimpi! Manusia sungguh kejam bukan?
Kasur sejatinya bukanlah tempat untuk meluapkan segala emosi dan keluh kesah. Ia semata-mata hanyalah untuk tempat melampiaskan lelah yang ada di badan.
Gitar sejatinya bukan untuk dimainkan sembari ditangisi. Ia hanyalah penghibur di kala suka dan tak menanti akan jatuhnya sebutir rasa duka.
Buku sejatinya bukan untuk dihujani air mata melainkan untuk dibaca dan diresapi makna dari setiap bait.
Boneka sejatinya tak ingin kita peluk dalam keadaan basah. Ia ingin semua orang memluknya dengan perasaan bahagia. Bukanlah suasana duka.

Intinya, semua benda ingin diperlakukan dengan menyenangkan dengan wajah yang bahagia pula. Karena perasaan itu menular dengan cepat! Cobalah untuk selalu tersenyum dan tertawa. Tebarlah kebahagiaan untuk sekitar. Berbagilah dengan sesama.

Yang ingin selalu bahagia,

Ninis Prabaswari...

28 November 2011

MEREKA!

Ketahuilah, bahwa aku ingin menjadi seperti mereka. Mereka layaknya manusia paling beruntung sedunia. Kadang aku berpikir, apakah memang ini nasibku? Tapi aku mengelak dari itu. Aku yakin, ini bukan NASIB tapi ini adalah proses. Proses menuju kematangan layaknya mereka.
Sebagian dari mereka telah mendapatkan apa yang selama ini aku dambakan. Apa yang selama ini aku inginkan. Sungguh aku ingin seperti mereka.
Aku telah berusaha semampuku meyakini raga ini bahwa semua ini adalah bagian dari sebuah proses. Tapi hati kecilku menolak. Ia merasa bahwa ini adalah takdir, nasib, atau apalah itu. Sugesti terasa tidak lagi mempan mendorong angan untuk terus terbang tinggi, meraih apa yang memang sepantasnyalah diraih. Raga dan jiwa ini tak mampu. Bukankah wajah ini telah menunjukkan keletihan yang amat pekat? Keletihan untuk mengejar mereka...
Apakah aku harus bertahan menjadi diriku sendiri? Terkungkung dalam setiap senti kebodohan yang sesungguhnya berasal dari dalam raga ini sendiri. Apakah aku harus terbang bebas dan tinggi kemudian melupakan tujuan utamaku untuk menjadi seperti mereka?
Terkadang...aku letih mengejar mereka. Mereka terlalu jauh. Terlalu tinggi. Hingga kemudian hanya lelah yang bersemayam dalam dada ini. Tertekan. Meskipun tiada satu orang pun yang menekanku untuk menjadi seperti mereka. Tapi hati kecil ini sangat ingin menjadi mereka. Namun hati kecil ini pula yang mengeluh.
Aku hanya tabir dari bayangan mereka. Meskipun, aku masih percaya aku bisa mencapai mereka, tapi untuk sekarang, aku sudah lelah. Aku yakin suatu saat 'nasib' baik itu akan berpihak kepada tabir ini.
Tolong jangan tiru aku, kawan... Aku hanyalah contoh bodoh yang tak lagi berdaya untuk mengejar mereka. Mungkin kalian punya sendiri mereka versi kalian. Kejarlah mereka! Suatu saat kau pasti akan terbang lebih tinggi daripada aku yang masih saja menjadi tabir bagi bayangan mereka sedangkan KAU sudah menjadi mereka HAHAHA.
Semalat berjuang ;)



*P.S: Doakan juga supaya aku bisa mengejar mereka selayaknya kalian :)

02 April 2011

Hello again

WOYOOOOOOOOOW! Finally I've finished my test. it's kinda a pre national exam called UAS (Ujian Akhir Sekolah) / Usek (Ujian Sekolah). i even don't know that I've answered all the questions right or wrong. it seems like........nothing. i'm not focus on that exam. yeah that was my fault certainly. but, I've promised to myself, on the next exam, the hardest one, NATIONAL EXAM, I should do my best. should should should.
For the 9 grader, GOODLUCK!

best regards,
@ninisnanass